February 4, 2026

UpdateCepat

Informasi Terbaru, Akurat, dan Eksklusif

BEI Bidik 50 Emiten Baru, Target Top 10 Bursa Dunia

Ambisi Besar Pasar Modal Indonesia di 2026

Bursa Efek Indonesia (BEI) memasang target ambisius sepanjang tahun 2026. Tidak hanya berfokus pada penambahan jumlah emiten, BEI juga menyiapkan fondasi strategis untuk membawa pasar modal nasional naik kelas dan bersaing di level global.

Direktur Utama BEI Iman Rachman menyampaikan bahwa sepanjang 2026, BEI menargetkan hadirnya 50 emiten baru, sehingga total pencatatan efek mencapai sekitar 555 emiten. Target ini bukan sekadar angka, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk menjaga kesinambungan pertumbuhan pasar modal Indonesia.

“Kami telah menyiapkan arah perkembangan bursa untuk lima tahun ke depan agar momentum pertumbuhan pasar modal terus terjaga,” ujar Iman dalam pembukaan perdagangan BEI awal tahun 2026 di Jakarta.


Master Plan BEI 2026–2030 sebagai Peta Jalan

Arah pengembangan tersebut tertuang dalam Master Plan BEI 2026–2030, yang menjadi peta jalan transformasi pasar modal Indonesia. Melalui master plan ini, BEI menargetkan terciptanya pasar modal yang lebih inovatif, transparan, inklusif, dan terhubung secara global pada 2030.

Transformasi yang dirancang tidak hanya menyentuh sisi kuantitas emiten, tetapi juga kualitas ekosistem pasar modal. BEI menempatkan penguatan tata kelola perusahaan, peningkatan infrastruktur perdagangan, serta pengembangan produk dan teknologi sebagai pilar utama.

Dalam konteks global, langkah ini menjadi penting karena persaingan antar bursa dunia semakin ketat. Bursa tidak lagi hanya dinilai dari jumlah perusahaan tercatat, tetapi juga dari likuiditas, kepercayaan investor, dan efisiensi sistem perdagangan.


Target Masuk Top 10 Bursa Dunia

Salah satu sasaran paling strategis dalam Master Plan BEI 2026–2030 adalah membawa Indonesia masuk ke Top 10 bursa dunia, baik dari sisi kapitalisasi pasar maupun nilai transaksi harian.

Iman Rachman menilai target tersebut realistis jika seluruh pemangku kepentingan pasar modal bergerak seirama. Menurutnya, pasar modal yang kuat akan menjadi tulang punggung pembiayaan jangka panjang bagi sektor riil dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.

Masuknya Indonesia ke jajaran bursa papan atas dunia juga diyakini dapat meningkatkan daya tarik investor global, memperluas arus modal asing, serta memperkuat posisi Indonesia dalam peta keuangan internasional.


Proyeksi Transaksi Harian Rp15 Triliun

Untuk menopang target besar tersebut, BEI menyusun sejumlah asumsi makro. Salah satunya adalah proyeksi Rencana Nilai Transaksi Harian (RNTH) pada 2026 yang ditargetkan mencapai Rp15 triliun.

Angka ini mencerminkan optimisme terhadap peningkatan likuiditas pasar, seiring dengan bertambahnya jumlah emiten, diversifikasi sektor usaha yang melantai di bursa, serta meningkatnya partisipasi investor ritel dan institusi.

Likuiditas yang tinggi menjadi faktor kunci bagi pasar modal yang sehat. Dengan transaksi yang aktif, harga saham lebih mencerminkan kondisi fundamental perusahaan, sekaligus meningkatkan kepercayaan investor jangka panjang.


Dorong Dua Juta Investor Baru

Selain fokus pada penawaran saham baru, BEI juga menaruh perhatian besar pada sisi permintaan. Sepanjang 2026, BEI menargetkan dua juta investor pasar modal baru untuk memperluas basis partisipasi masyarakat.

Strategi ini dijalankan melalui berbagai kanal distribusi informasi dan edukasi, mulai dari program literasi pasar modal di daerah, pemanfaatan platform digital, hingga kolaborasi dengan perguruan tinggi, komunitas, dan pelaku industri keuangan.

Peningkatan jumlah investor ritel dinilai penting untuk menjaga stabilitas pasar. Basis investor yang luas membuat pasar modal tidak terlalu bergantung pada pergerakan dana institusional besar, sehingga volatilitas dapat ditekan.


Dampak bagi Emiten dan Dunia Usaha

Bagi dunia usaha, target 50 emiten baru membuka peluang besar, terutama bagi perusahaan menengah dan besar yang membutuhkan pembiayaan jangka panjang. Melantai di bursa tidak hanya memberikan akses pendanaan, tetapi juga meningkatkan kredibilitas, transparansi, dan daya saing perusahaan.

Dengan ekosistem pasar modal yang semakin matang, BEI berharap IPO tidak lagi dipandang sebagai langkah terakhir, melainkan sebagai bagian dari strategi pertumbuhan perusahaan sejak dini.

Ke depan, BEI juga mendorong lebih banyak perusahaan dari sektor-sektor potensial seperti ekonomi digital, energi terbarukan, kesehatan, dan industri berbasis teknologi untuk masuk ke pasar modal.


Kolaborasi Jadi Faktor Penentu

BEI menegaskan bahwa keberhasilan Master Plan 2026–2030 sangat bergantung pada sinergi seluruh pemangku kepentingan. Emiten, anggota bursa, regulator, investor, hingga pemerintah memiliki peran penting dalam menciptakan pasar modal yang kuat dan berdaya saing.

“Kami percaya visi ini hanya dapat terwujud melalui kolaborasi seluruh stakeholder. Dukungan dan sinergi sangat dibutuhkan agar master plan ini dapat berjalan optimal dan memberikan manfaat nyata,” tegas Iman.

Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menciptakan iklim pasar modal yang kondusif, berintegritas, dan berorientasi jangka panjang.


Menuju Pasar Modal Kelas Dunia

Dengan target 50 emiten baru, dua juta investor tambahan, serta proyeksi transaksi harian Rp15 triliun, BEI menunjukkan keseriusan dalam membawa pasar modal Indonesia menuju level berikutnya. Tahun 2026 menjadi titik krusial dalam perjalanan transformasi tersebut.

Jika strategi yang tertuang dalam Master Plan BEI 2026–2030 berjalan sesuai rencana, pasar modal Indonesia tidak hanya tumbuh secara domestik, tetapi juga semakin diperhitungkan di tingkat global. Ambisi masuk Top 10 bursa dunia pun bukan sekadar mimpi, melainkan tujuan strategis yang tengah dibangun secara bertahap dan terukur.

Baca Juga : Malam Tahun Baru di Sukamaju, Warga RT 03 Gelar Doa Bersama

Jangan Lewatkan Info Penting Dari : rumahjurnal