Banjir Bandang dan Kayu yang Menyisakan Polemik
Banjir bandang yang melanda sebagian wilayah Sumatra meninggalkan dampak yang tidak kecil, termasuk di Aceh Tengah. Selain merusak rumah dan lahan pertanian, bencana ini juga membawa material alam dalam jumlah besar, salah satunya kayu gelondongan dari kawasan hulu. Kayu-kayu tersebut terbawa arus deras dan menumpuk di sawah, sungai, serta permukiman warga.
Pemanfaatan kayu gelondongan pascabencana sempat memicu perdebatan di tengah masyarakat. Sebagian pihak menilai bahwa dalam kondisi darurat, masyarakat berhak memanfaatkan sumber daya yang tersedia demi bertahan hidup. Namun, ada pula yang berpendapat bahwa pemanfaatan kayu harus melalui koordinasi dengan pemerintah untuk mencegah konflik dan kerusakan lingkungan lanjutan.
Aturan Pemerintah soal Kayu Hanyut
Menanggapi polemik tersebut, pemerintah mengeluarkan aturan terbaru yang menyatakan bahwa kayu hanyut dapat dimanfaatkan secara terbatas oleh masyarakat terdampak bencana. Pemanfaatan ini dilakukan bersama pemerintah daerah dan pihak terkait, dengan tujuan utama mendukung pemulihan ekonomi dan sosial warga.
Kebijakan ini dimaksudkan agar pemanfaatan kayu tidak berubah menjadi eksploitasi bebas, tetapi tetap berada dalam koridor kemanusiaan. Kayu hanyut dipandang sebagai dampak bencana yang dapat digunakan untuk kebutuhan mendesak, seperti perbaikan rumah atau sarana pendukung kehidupan sehari-hari.
Kampung Toweren Owaq dan Luka Pascabencana
Di Aceh Tengah, tepatnya di Kampung Toweren Owaq, Kecamatan Lut Tawar, dampak banjir bandang terasa sangat nyata. Separuh wilayah sawah di bagian hulu dan hilir kampung tertimbun lumpur serta gelondongan kayu dalam jumlah besar. Sawah-sawah yang sebelumnya menjadi tumpuan hidup warga kini tak lagi bisa digarap.
Bagi petani setempat, bencana ini datang di saat yang paling tidak diharapkan. Padi yang ditanam sudah mulai berbuah dan diperkirakan beberapa bulan lagi akan menguning. Namun, longsor dan banjir mengubur harapan panen tersebut, memaksa warga mencari cara lain untuk bertahan hidup.
Salihin dan Krisis Ekonomi Keluarga
Salah satu penyintas banjir di kampung tersebut adalah Salihin. Bagi Salihin, pemanfaatan kayu gelondongan bukan didorong oleh kebutuhan rekonstruksi rumah, melainkan karena kondisi ekonomi keluarga yang sudah berada pada level darurat. Sawah padinya tertimbun longsor, sementara kebutuhan hidup sehari-hari tidak bisa menunggu bantuan datang.
Salihin menyadari bahwa tanpa sumber penghasilan baru, keluarganya akan kesulitan bertahan. Di tengah keterbatasan tersebut, ia melihat kayu gelondongan yang berserakan bukan hanya sebagai sisa bencana, tetapi juga sebagai peluang untuk bangkit.
Darah Nelayan dan Ingatan Masa Lalu
Meski berprofesi sebagai petani, Salihin memiliki latar belakang keluarga nelayan. Mendiang ayahnya dahulu menggantungkan hidup dari perairan Danau Lut Tawar. Ingatan akan keterampilan mengolah kayu dan membuat perahu sampan kembali muncul ketika ia melihat gelondongan kayu pascabanjir.
Berbekal pengetahuan yang diwariskan ayahnya, Salihin mulai merancang perahu dari kayu-kayu yang terbawa arus. Tanpa peralatan modern, proses pembuatan dilakukan secara manual, mengandalkan pengalaman dan naluri yang telah lama tertanam.
Kayu Gelondongan Disulap Jadi Perahu Sampan
Kayu-kayu besar yang sebelumnya menjadi simbol kehancuran kini berubah menjadi sarana harapan. Salihin memotong, membentuk, dan menyusun gelondongan kayu hingga menjadi perahu sampan sederhana. Perahu tersebut dirancang untuk digunakan di perairan sekitar kampung dan Danau Lut Tawar.
Bagi Salihin, perahu ini bukan sekadar alat transportasi. Ia melihatnya sebagai peluang untuk kembali ke sumber penghidupan yang berbeda, seperti mencari ikan atau membantu aktivitas warga lain yang membutuhkan perahu. Di tengah keterbatasan, kreativitas menjadi kunci bertahan hidup.
Kearifan Lokal dalam Pemulihan Pascabencana
Apa yang dilakukan Salihin mencerminkan kearifan lokal masyarakat Aceh dalam menghadapi bencana. Alih-alih menunggu bantuan sepenuhnya, warga berusaha memanfaatkan sumber daya yang tersedia di sekitar mereka. Pendekatan ini tidak hanya membantu pemulihan ekonomi, tetapi juga menjaga martabat dan kemandirian penyintas.
Pemanfaatan kayu gelondongan secara kreatif menunjukkan bahwa masyarakat lokal memiliki solusi yang lahir dari pengalaman hidup dan kedekatan dengan alam. Dalam konteks ini, kebijakan pemerintah yang memberi ruang pemanfaatan terbatas menjadi sangat relevan.
Tantangan Lingkungan dan Koordinasi Pemerintah
Meski demikian, pemanfaatan kayu pascabencana tetap memerlukan pengawasan. Tanpa koordinasi yang baik, ada risiko pemanfaatan kayu disalahgunakan atau memicu konflik antarmasyarakat. Pemerintah daerah diharapkan hadir untuk memastikan bahwa pemanfaatan kayu benar-benar bertujuan kemanusiaan dan pemulihan.
Selain itu, penanganan lumpur dan kayu yang menimbun sawah juga menjadi tantangan besar. Tanpa penanganan serius, lahan pertanian berisiko tidak produktif dalam jangka panjang, memperpanjang penderitaan warga terdampak banjir.
Bencana, Adaptasi, dan Harapan Baru
Kisah Salihin di Kampung Toweren Owaq menunjukkan bahwa di balik bencana selalu ada cerita tentang daya lenting manusia. Kayu gelondongan yang awalnya membawa kehancuran kini menjadi perahu, simbol adaptasi dan harapan baru bagi penyintas banjir di Aceh Tengah.
Di tengah keterbatasan bantuan dan lambatnya pemulihan, kreativitas warga menjadi penopang utama kehidupan. Selama ada ruang untuk beradaptasi dan dukungan kebijakan yang berpihak pada masyarakat, proses bangkit dari bencana bukanlah hal yang mustahil.
Baca Juga : Tragedi Kapal Pinisi di Pulau Padar Guncang Labuan Bajo
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : medianews


More Stories
Sidang Korupsi Chromebook, Eks Anak Buah Nadiem Disorot
Dua Tahanan Positif Campak, ICE Karantina Detensi Texas
IHSG Terkoreksi 0,6 Persen pada Awal Perdagangan