February 4, 2026

UpdateCepat

Informasi Terbaru, Akurat, dan Eksklusif

Kogabwilhan III Hijaukan Pesisir Ternate dengan Mangrove

Upaya pelestarian lingkungan pesisir kembali mendapat perhatian serius dari unsur pertahanan negara. Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III (Kogabwilhan III) melakukan penanaman 1.000 pohon mangrove di kawasan Pantai Gambesi, wilayah pesisir Ternate. Kegiatan ini menjadi bagian dari langkah strategis dalam menghadapi dampak perubahan iklim sekaligus memperkuat perlindungan wilayah pesisir yang rentan terhadap abrasi dan bencana alam.

Penanaman mangrove tersebut mencerminkan pendekatan pertahanan yang semakin holistik. Kedaulatan negara tidak lagi dipahami semata-mata dari aspek militer, tetapi juga dari kemampuan menjaga keberlanjutan lingkungan sebagai fondasi ketahanan nasional jangka panjang.

Mangrove sebagai Benteng Alami Pesisir

Mangrove dikenal sebagai ekosistem pesisir yang memiliki fungsi ekologis sangat penting. Akar-akar mangrove mampu menahan abrasi pantai, meredam gelombang laut, serta mengurangi dampak bencana seperti banjir rob dan tsunami. Di wilayah kepulauan seperti Ternate, keberadaan mangrove menjadi krusial karena garis pantai yang panjang dan langsung berhadapan dengan laut terbuka.

Dengan penanaman 1.000 bibit mangrove, Kogabwilhan III berupaya memperkuat benteng alami pesisir. Selain melindungi daratan dari kerusakan, mangrove juga berperan sebagai habitat berbagai biota laut yang mendukung keseimbangan ekosistem dan sumber penghidupan masyarakat pesisir.

Peran TNI dalam Isu Lingkungan

Kegiatan ini menunjukkan peran aktif TNI dalam menghadapi tantangan nonmiliter. Ancaman perubahan iklim dan degradasi lingkungan kini dipandang sebagai faktor yang dapat memengaruhi stabilitas sosial dan keamanan wilayah. Oleh karena itu, keterlibatan TNI dalam kegiatan pelestarian lingkungan menjadi bagian dari strategi pertahanan modern.

Kepala Staf Kogabwilhan III, Joko Sugeng Sriyanto, menegaskan bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian integral dari menjaga kedaulatan negara. Lingkungan yang rusak dapat memicu berbagai persoalan, mulai dari bencana alam hingga konflik sosial akibat berkurangnya sumber daya.

Kolaborasi dengan Berbagai Pihak

Penanaman mangrove di pesisir Ternate tidak dilakukan secara sepihak. Kegiatan ini melibatkan kolaborasi antara TNI, pemerintah daerah, sektor swasta, dan masyarakat setempat. Bibit mangrove yang ditanam disiapkan oleh pihak swasta sebagai bentuk dukungan terhadap upaya pelestarian lingkungan.

Kolaborasi ini penting karena keberhasilan rehabilitasi mangrove sangat bergantung pada partisipasi masyarakat lokal. Warga pesisir memiliki peran besar dalam menjaga dan merawat mangrove yang telah ditanam agar dapat tumbuh optimal dan memberikan manfaat jangka panjang.

Edukasi dan Kesadaran Lingkungan

Selain aspek fisik penanaman, kegiatan ini juga membawa misi edukatif. Kogabwilhan III memanfaatkan momentum ini untuk membangun kesadaran bersama tentang pentingnya menjaga ekosistem pesisir. Mangrove bukan sekadar tanaman, tetapi investasi lingkungan yang manfaatnya dirasakan lintas generasi.

Melalui kegiatan semacam ini, masyarakat diajak memahami bahwa pelestarian alam tidak terpisah dari peningkatan kualitas hidup. Lingkungan pesisir yang sehat mendukung aktivitas ekonomi, seperti perikanan dan pariwisata, serta mengurangi risiko bencana yang dapat merugikan banyak pihak.

Dampak Jangka Panjang bagi Ketahanan Wilayah

Penanaman mangrove memiliki dampak jangka panjang terhadap ketahanan wilayah. Ekosistem pesisir yang kuat membantu menjaga garis pantai tetap stabil, melindungi infrastruktur, dan mengurangi beban pemerintah dalam penanganan bencana. Dalam konteks pertahanan, wilayah pesisir yang aman dan lestari turut mendukung stabilitas nasional.

Bagi Kota Ternate dan wilayah Maluku Utara secara umum, upaya rehabilitasi mangrove menjadi langkah strategis menghadapi tantangan perubahan iklim. Kenaikan muka air laut dan cuaca ekstrem merupakan ancaman nyata bagi daerah kepulauan, sehingga mitigasi berbasis alam menjadi solusi yang efektif dan berkelanjutan.

Komitmen Berkelanjutan Kogabwilhan III

Kogabwilhan III menegaskan bahwa kegiatan penanaman mangrove bukan sekadar agenda seremonial. Program ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang untuk terus berkontribusi dalam menjaga keseimbangan alam di wilayah pesisir Indonesia. Kegiatan serupa direncanakan akan dilakukan di berbagai daerah lain yang memiliki kerentanan lingkungan.

Langkah ini sejalan dengan visi TNI untuk hadir dan berperan aktif dalam kehidupan masyarakat, tidak hanya dalam konteks keamanan, tetapi juga dalam upaya menjaga lingkungan hidup sebagai warisan bagi generasi mendatang.

Peran Masyarakat Pesisir

Masyarakat pesisir menjadi aktor kunci dalam keberlanjutan program ini. Setelah penanaman dilakukan, perawatan dan perlindungan mangrove sangat bergantung pada kesadaran warga setempat. Dengan keterlibatan langsung, masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga penjaga ekosistem yang berharga.

Kegiatan penanaman mangrove di Pantai Gambesi diharapkan menjadi contoh praktik baik kolaborasi antara aparat negara dan masyarakat dalam menghadapi tantangan lingkungan.

Penutup

Penanaman 1.000 mangrove oleh Kogabwilhan III di pesisir Ternate menegaskan bahwa ketahanan nasional tidak bisa dipisahkan dari kelestarian lingkungan. Mangrove menjadi simbol benteng alami yang melindungi wilayah pesisir sekaligus memperkuat keseimbangan ekosistem.

Melalui kolaborasi lintas sektor dan komitmen berkelanjutan, upaya ini diharapkan mampu memberikan dampak positif jangka panjang bagi lingkungan, masyarakat, dan stabilitas wilayah. Inisiatif semacam ini menunjukkan bahwa menjaga alam adalah bagian tak terpisahkan dari menjaga kedaulatan dan masa depan Indonesia.

Baca Juga : 10 Ahli dan Saksi Meringankan Roy Suryo Cs Diperiksa

Cek Juga Artikel Dari Platform : museros