February 4, 2026

UpdateCepat

Informasi Terbaru, Akurat, dan Eksklusif

Kericuhan Minneapolis Picu Gelombang Protes Anti-ICE Nasional

Ketegangan Memuncak di Minneapolis

Gelombang protes menentang Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat (ICE) mencapai puncaknya di Minneapolis setelah polisi menangkap sedikitnya 29 demonstran dalam aksi yang berujung ricuh. Demonstrasi tersebut dipicu oleh penembakan fatal terhadap seorang perempuan warga sipil oleh agen ICE, insiden yang dengan cepat memantik kemarahan publik dan memperluas perlawanan terhadap kebijakan penegakan imigrasi pemerintah federal.

Minneapolis kembali menjadi sorotan nasional, mengingat kota ini memiliki sejarah panjang sebagai pusat gerakan protes besar di Amerika Serikat. Ribuan massa turun ke jalan sepanjang akhir pekan, menyuarakan tuntutan keadilan, akuntabilitas aparat, serta penghentian operasi imigrasi yang dinilai represif dan mengancam keselamatan warga sipil.


Penembakan yang Menjadi Pemicu Utama

Aksi protes bermula dari kematian Renee Nicole Good, 37 tahun, yang ditembak mati oleh agen ICE saat operasi penegakan imigrasi berlangsung di Minnesota. Menurut keterangan keluarga dan aktivis lokal, Renee merupakan ibu tiga anak dan aktif dalam kegiatan patroli lingkungan—sebuah inisiatif warga untuk memantau dan mendokumentasikan aktivitas aparat imigrasi.

Pihak federal menyatakan bahwa agen ICE melepaskan tembakan sebagai bentuk pembelaan diri, dengan klaim bahwa korban mencoba menggunakan kendaraan sebagai senjata. Namun, pernyataan ini dibantah oleh sejumlah saksi dan kelompok hak sipil yang menilai insiden tersebut sebagai penggunaan kekuatan berlebihan terhadap warga sipil yang tidak bersenjata.

Kematian Renee memunculkan kembali trauma kolektif publik, terutama karena lokasi kejadian tidak jauh dari tempat tewasnya George Floyd pada 2020—peristiwa yang memicu protes global menentang kekerasan aparat penegak hukum.


Aksi Protes Berubah Ricuh

Demonstrasi besar di Minneapolis berlangsung di luar sebuah hotel pusat kota yang diduga menjadi tempat menginap agen ICE. Awalnya, aksi berjalan damai dengan orasi, poster tuntutan, serta nyanyian solidaritas. Namun situasi berubah ketika sekelompok demonstran mencoba memasuki gedung hotel.

Kepala Kepolisian Minneapolis menyatakan bahwa aparat telah memberikan beberapa kali peringatan sebelum akhirnya menetapkan status perkumpulan tidak sah. Setelah itu, polisi bergerak membubarkan massa dan melakukan penangkapan. Dalam kericuhan tersebut, seorang petugas dilaporkan mengalami luka ringan akibat lemparan bongkahan es dan salju.

Sebanyak 29 demonstran diamankan, meski sebagian besar kemudian dibebaskan setelah menjalani pemeriksaan awal. Aparat menegaskan bahwa tindakan penegakan hukum dilakukan demi menjaga ketertiban umum dan keselamatan masyarakat.


Protes Meluas ke Berbagai Negara Bagian

Kericuhan di Minneapolis hanyalah satu bagian dari gelombang protes yang lebih luas. Aksi bertajuk “ICE Out” digelar di ratusan kota di seluruh Amerika Serikat, mulai dari Texas, Ohio, Florida, hingga New Mexico. Para demonstran menuntut evaluasi total terhadap kebijakan imigrasi serta pembatasan kewenangan ICE dalam operasi lapangan.

Banyak peserta aksi menyatakan bahwa pengerahan besar-besaran aparat bersenjata di lingkungan sipil menciptakan rasa takut, terutama di komunitas imigran dan minoritas. Mereka menilai operasi ICE tidak hanya menargetkan pelanggar hukum, tetapi juga mengancam warga biasa.


Respons Pemerintah dan Pejabat Negara Bagian

Pemerintahan Donald Trump membela tindakan aparat federal, dengan menyebut penembakan di Minneapolis dan insiden serupa di Portland sebagai bentuk pembelaan diri. Gedung Putih menegaskan bahwa penegakan hukum imigrasi merupakan bagian dari menjaga keamanan nasional.

Di sisi lain, Gubernur Minnesota menyerukan agar masyarakat tetap menyalurkan aspirasi secara damai. Ia mengingatkan bahwa kekerasan hanya akan memperkeruh situasi dan berpotensi merugikan tujuan utama gerakan protes.

Wali Kota Minneapolis juga menyatakan bahwa sebagian besar demonstrasi berlangsung tertib, namun tindakan tegas akan diambil terhadap pihak-pihak yang merusak fasilitas umum atau membahayakan keselamatan orang lain.


Anggota Kongres Hadapi Hambatan Pengawasan

Ketegangan semakin meningkat ketika sejumlah anggota Kongres AS mencoba mengunjungi fasilitas penahanan ICE di Minneapolis sebagai bagian dari fungsi pengawasan parlemen. Namun, mereka dilaporkan dihalangi agen federal dan diminta meninggalkan lokasi.

Salah satu anggota DPR menyebut tindakan tersebut sebagai upaya menghalangi fungsi pengawasan demokratis, yang seharusnya dijamin oleh hukum federal. Insiden ini memperkuat kritik bahwa operasi ICE semakin tertutup dan minim transparansi.


Isu HAM dan Arah Demokrasi Amerika

Kasus penembakan di Minneapolis dan penangkapan demonstran menambah panjang daftar kontroversi seputar ICE. Organisasi hak asasi manusia menilai bahwa pendekatan militeristik dalam penegakan imigrasi berisiko melanggar prinsip HAM dan supremasi hukum.

Bagi banyak pengamat, situasi ini mencerminkan konflik mendasar antara kebijakan keamanan negara dan perlindungan hak sipil. Protes anti-ICE kini bukan hanya soal imigrasi, tetapi juga tentang batas kewenangan negara dalam menggunakan kekuatan terhadap warga.


Penutup

Kericuhan di Minneapolis menandai babak baru dalam perlawanan publik terhadap kebijakan imigrasi Amerika Serikat. Penangkapan 29 demonstran menjadi simbol ketegangan yang lebih luas antara aparat federal dan masyarakat sipil. Di tengah penyelidikan atas kematian Renee Nicole Good yang masih berlangsung, tuntutan akan keadilan, transparansi, dan reformasi kebijakan imigrasi diperkirakan akan terus menggema di seluruh negeri.

Situasi ini menunjukkan bahwa isu imigrasi di Amerika Serikat telah melampaui ranah kebijakan semata, berubah menjadi ujian serius bagi demokrasi, hak asasi manusia, dan kepercayaan publik terhadap aparat penegak hukum.

Baca Juga : 5 Perusahaan Terbesar di Indonesia yang Jadi Incaran Pencari Kerja

Cek Juga Artikel Dari Platform : beritabandar